Kursus komputer majalengka - Gunung Ceremai
Kursus komputer majalengka
Gunung Ceremai dari arah Cigugur, Kuningan
Titik tertinggi
Ketinggian 3078 m (10098 ft)[1]
Puncak 2792 m (9160 ft)
Masuk dalam daftar Ultra
Ribu
Koordinat 6.53°S 108.24°E
Geografi
Gunung Ciremai
Jawa Barat, Indonesia
Geologi
Jenis gunung Stratovolcano
Letusan terakhir 1938
Pendakian
Rute termudah Palutungan
Rute normal Apuy
Linggarjati
Linggasana
Gunung Ceremai dari Jalan Tol Cikopo-Palimanan arah Cirebon
Gunung Ceremai dari Desa Loji, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka
G. Careme di mula abad ke-20. Foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam.
Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah disebut "Ciremai") ialah gunung berapi kerucut yang secara administratif tergolong dalam distrik dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan elevasi 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini adalahgunung tertinggi di Jawa Barat.
Gunung ini mempunyai kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah unsur timur yang beradius 600 m. Pada elevasi sekitar 2.900 m dpl di lereng unsur selatan ada bekas titik letusan yang disebut Gowa Walet.
Kini G. Ceremai tergolong ke dalam area Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang mempunyai luas total selama 15.000 hektare.
Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tanaman perdu berbuah kecil dengan rada masam), tetapi seringkali dinamakan Ciremai, suatu fenomena hiperkorek dampak banyaknya nama lokasi di distrik Pasundan yang memakai awalan 'ci-' guna penamaan tempat.
Kumpulan isi
1 Vulkanologi dan geologi
2 Jalur pendakian
3 Keanekaragaman hayati
3.1 Vegetasi
3.2 Margasatwa
4 Referensi
Vulkanologi dan geologi
Gunung Ceremai tergolong gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif sejak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini adalahgunungapi soliter, yang diceraikan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kumpulan gunungapi Jawa Barat bagian unsur timur (yakni barisan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha sampai Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.
Ceremai adalahgunungapi generasi ketiga. Generasi kesatu merupakan suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua ialah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh menyusun Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi unsur utara Kaldera Gegerhalang, yang diduga terjadi pada selama 7.000 tahun yang kemudian (Situmorang 1991).
Letusan G. Ceremai tercatat semenjak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang masa-masa istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat namun tidak menimbulkan kehancuran yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai wilayah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda wilayah barat daya G. Ciremai, yang diduga sehubungan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sebanyak bangunan di wilayah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa sampai Desa Cilimus di unsur timur G. Ceremai.
Jalur pendakian
Puncak gunung Ceremai dapat dijangkau melalui tidak sedikit jalur pendakian. Jalur pemanjatan tersebut mencakup Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Ada satu jalur pemanjatan baru yaitu melewati Desa Linggasana di Kec. Cilimus, Kab. Kuningan. Jalur di Desa Linggasana yang dimulai tahun 2010 pun mudah diakses sebab masih satu trayek jalan raya dengan jalur di Desa Linggarjati. Jalur pemanjatan lain merupakan melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kumpulan pecinta alam "AKAR" (Anak Kuningan Alam Rimba) yang dapat menolong menyediakan sekian banyak informasi dan pemanduan tentang pendakian Gunung Ceremai.
Keanekaragaman hayati
Vegetasi
Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai bermukim lagi di unsur atas. Di sebelah bawah, khususnya di distrik yang pada masa kemudian dikelola sebagai area hutan buatan Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diolah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk dampak kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, mayoritas hutan-hutan di bawah elevasi … m dpl. dikelola dalam format wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.
Sebagaimana umumnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang memanjat ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai beruntun tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan lantas wilayah-wilayah tersingkap tak berpohon di dekat puncak dan kawah.
Lebih jauh, menurut suasana iklim mikronya, LIPI (2001) memisahkan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di distrik Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian unsur selatan gunung) tergolong beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah unsur utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.
Secara umum, jalur-jalur pemanjatan Palutungan (di bagian unsur selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), Linggasana dan Linggarjati (timur) beruntun dari bawah ke atas akan melewati lahan-lahan permukiman, ladang dan kebun kepunyaan penduduk, hutan tumbuhan pinus bercampur dengan ladang garapan dalam distrik hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu diperbanyak dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dipisahkan lagi atas tiga tipe yakni hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di dekat kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diperkirakan telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang lumayan jelas.
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Titik tertinggi
Ketinggian 3078 m (10098 ft)[1]
Puncak 2792 m (9160 ft)
Masuk dalam daftar Ultra
Ribu
Koordinat 6.53°S 108.24°E
Geografi
Gunung Ciremai
Jawa Barat, Indonesia
Geologi
Jenis gunung Stratovolcano
Letusan terakhir 1938
Pendakian
Rute termudah Palutungan
Rute normal Apuy
Linggarjati
Linggasana
Gunung Ceremai dari Jalan Tol Cikopo-Palimanan arah Cirebon
Gunung Ceremai dari Desa Loji, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka
G. Careme di mula abad ke-20. Foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam.
Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah disebut "Ciremai") ialah gunung berapi kerucut yang secara administratif tergolong dalam distrik dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan elevasi 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini adalahgunung tertinggi di Jawa Barat.
Gunung ini mempunyai kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah unsur timur yang beradius 600 m. Pada elevasi sekitar 2.900 m dpl di lereng unsur selatan ada bekas titik letusan yang disebut Gowa Walet.
Kini G. Ceremai tergolong ke dalam area Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang mempunyai luas total selama 15.000 hektare.
Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tanaman perdu berbuah kecil dengan rada masam), tetapi seringkali dinamakan Ciremai, suatu fenomena hiperkorek dampak banyaknya nama lokasi di distrik Pasundan yang memakai awalan 'ci-' guna penamaan tempat.
Kumpulan isi
1 Vulkanologi dan geologi
2 Jalur pendakian
3 Keanekaragaman hayati
3.1 Vegetasi
3.2 Margasatwa
4 Referensi
Vulkanologi dan geologi
Gunung Ceremai tergolong gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif sejak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini adalahgunungapi soliter, yang diceraikan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kumpulan gunungapi Jawa Barat bagian unsur timur (yakni barisan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha sampai Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.
Ceremai adalahgunungapi generasi ketiga. Generasi kesatu merupakan suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua ialah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh menyusun Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi unsur utara Kaldera Gegerhalang, yang diduga terjadi pada selama 7.000 tahun yang kemudian (Situmorang 1991).
Letusan G. Ceremai tercatat semenjak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang masa-masa istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat namun tidak menimbulkan kehancuran yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai wilayah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda wilayah barat daya G. Ciremai, yang diduga sehubungan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sebanyak bangunan di wilayah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa sampai Desa Cilimus di unsur timur G. Ceremai.
Jalur pendakian
Puncak gunung Ceremai dapat dijangkau melalui tidak sedikit jalur pendakian. Jalur pemanjatan tersebut mencakup Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Ada satu jalur pemanjatan baru yaitu melewati Desa Linggasana di Kec. Cilimus, Kab. Kuningan. Jalur di Desa Linggasana yang dimulai tahun 2010 pun mudah diakses sebab masih satu trayek jalan raya dengan jalur di Desa Linggarjati. Jalur pemanjatan lain merupakan melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kumpulan pecinta alam "AKAR" (Anak Kuningan Alam Rimba) yang dapat menolong menyediakan sekian banyak informasi dan pemanduan tentang pendakian Gunung Ceremai.
Keanekaragaman hayati
Vegetasi
Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai bermukim lagi di unsur atas. Di sebelah bawah, khususnya di distrik yang pada masa kemudian dikelola sebagai area hutan buatan Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diolah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk dampak kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, mayoritas hutan-hutan di bawah elevasi … m dpl. dikelola dalam format wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.
Sebagaimana umumnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang memanjat ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai beruntun tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan lantas wilayah-wilayah tersingkap tak berpohon di dekat puncak dan kawah.
Lebih jauh, menurut suasana iklim mikronya, LIPI (2001) memisahkan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di distrik Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian unsur selatan gunung) tergolong beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah unsur utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.
Secara umum, jalur-jalur pemanjatan Palutungan (di bagian unsur selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), Linggasana dan Linggarjati (timur) beruntun dari bawah ke atas akan melewati lahan-lahan permukiman, ladang dan kebun kepunyaan penduduk, hutan tumbuhan pinus bercampur dengan ladang garapan dalam distrik hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu diperbanyak dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dipisahkan lagi atas tiga tipe yakni hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di dekat kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diperkirakan telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang lumayan jelas.
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
![]() |
| Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka |
Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297

Komentar
Posting Komentar