Kursus komputer majalengka - Kerajaan Banten : Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya
Kursus komputer majalengka
Kerajaan Banten : Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Secara Lengkap – Tahukah kamu tentang Kerajaan Banten ??? Jika kamu belum mengetahuinya kamu tepat sekali mendatangi gurupendidikan.com. Karena pada peluang kali ini akan membicarakan tentang sejarah Kerajaan Banten, raja-raja Kerajaan Banten, peninggalan Kerajaan Banten, dan kehidupan politik kerajaan Banten secara lengkap. Oleh karena tersebut marilah simak pembahasan yang terdapat dibawah inilah ini.
kerajaan banten
Contents
1 Sejarah Kerajaan Banten
2 Syiar Islam ke Banten dan Pendirian Kesultanan Banten
3 Penguasaan Banten
4 Banten Sebagai Kesultanan
5 Perang Saudara
6 Raja-Raja Kerajaan Banten
7 1. Sultan hasanuddin
8 Peninggalan Kerajaan Banten
9 Kehidupan Politik Kerajaan Banten
10 Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten
11 Kehidupan Sosial Dan Budaya Kerajaan Banten
12 Kehidupan Agama Kerajaan Banten
13 Kejayaan Kerajaan Banten
14 Runtuhnya Kerajaan Banten
15 Warisan Sejarah Kerajaan Banten
15.1 Posting bersangkutan:
Sejarah Kerajaan Banten
Pada mula abad ke-16, wilayah pajajaran yang beragama hindu. pusat kerajaan ini bertempat di pakuan ( kini bogor ). kerajaan pajajaran mempunyai bandar-bandar urgen seperti banten, sunda kelapa ( jakarta ) dan cirebon.
Kerajaan pajajaran telah menyelenggarakan kerja sama dengan portugis. oleh kerena itu, portugis diperbolehkan mendirikan kantor dagang dan benteng pertahanan di sunda kelapa. untuk menahan pengaruh portugis di pajajaran, sultan trenggono dari demak memrintahkan fatahilah selaku panglima perang demak guna menaklukan bandar-bandar pajajaran. pada tahun 1526, armada demak sukses menguasai banten.
Pasukan fatahillah juga sukses merebut pelabuhan sunda kelapa pada tanggal 22 juni 1527. sejak ketika iru nama “sunda kelapa” diolah menjadi “jayakarta” atau “jakarta” yang berarti kota kemenanggan. tanggal tersebut ( 22 juni ), lantas dijadikan hari jadi kota jakarta.
Dalam masa-masa singkat. semua pantai unsur utara jawa barat bisa dikuasai fatahillah,agama islam lambat laun tersebar di jawa barat. fatahillah lantas menjadi wali ( ulama besar ) dengan gelar sunan gunung jati dan berkedudukan di cirebon. Pada tahun 1552, putra fatahillah yang mempunyai nama hasanudin diusung menjadi penguasa banten. putranya yang lain, pasarean diusung menjadi penguasa di cirebon. fatahillah sendiri menegakkan pusat pekerjaan keagamaan di gunung jati, cirebon hingga beliau wafat pada tahun pada tahun 1568. jadi, pada tadinya kerajaan banten adalahwilayah dominasi kerajaan demak.
Syiar Islam ke Banten dan Pendirian Kesultanan Banten
Pada masa mula kedatangannya ke Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bareng dengan Pangeran Walangsungsang sempat mengerjakan syiar Islam di distrik Banten yang pada masa tersebut disebut sebagai Wahanten, Syarif Hidayatullah dalam syiarnya menyatakan bahwa makna jihad (perang) tidak melulu dimaksudkan perang melawan musuh-musuh saja namun pun perang melawan hawa nafsu, keterangan inilah yang lantas menarik hati masyarakat Wahanten dan pucuk umum (penguasa) Wahanten Pasisir.
Pada masa tersebut di distrik Wahanten ada dua penguasa yakni Sang Surosowan (anak dari prabu Jaya Dewata atau Silih Wangi) yang menjadi pucuk umum (penguasa) guna wilayah Wahanten Pasisir dan Arya Suranggana yang menjadi pucuk umum guna wilayah Wahanten Girang.
Di distrik Wahanten Pasisir Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Kawung anten (putri dari Sang Surosowan), dua-duanya kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak yakni Ratu Winaon (lahir pada 1477 m) dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin : nama pemberian dari kakeknya Sang Surosowan) yang bermunculan pada 1478 m. Sang Surosowan walaupun tidak mendekap agama Islam tetapi sangat toleran untuk para pemeluk Islam yang datang ke wilayahnya.
Syarif Hidayatullah lantas kembali ke kesultanan Cirebon guna menerima tanggung jawab sebagai penguasa kesultanan Cirebon pada 1479 sesudah sebelumnya menghadiri rapat semua wali di
Tuban yang menghasilkan keputusan menjadikan Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin dari semua wali.
Penguasaan Banten
Pada tahun 1522, Maulana Hasanuddin membina kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, pada masa itu dia pun membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di area Pacitan. Sementara yang menjadi pucuk umum (penguasa) di Wahanten Pasisir ialah Arya Surajaya (putra dari Sang Surosowan dan paman dari Maulana Hasanuddin) sesudah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 m. Arya Surajaya diduga masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir sampai tahun 1526 m.
Pada tahun 1524 m, Sunan Gunung Jati bareng pasukan campuran dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak tiba di pelabuhan Banten. Pada masa ini tidak ada pengakuan yang mengaku bahwa Wahanten Pasisir merintangi kedatangan pasukan campuran Sunan Gunung Jati sampai-sampai pasukan difokuskan guna merebut Wahanten Girang.
Dalam Carita Sajarah Banten disebutkan ketika pasukan campuran kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak menjangkau Wahanten Girang, Ki Jongjo (seorang kepala prajurit penting) dengan sukarela memihak untuk Maulana Hasanuddin.
Dalam sumber-sumber lisan dan tradisional dikisahkan bahwa pucuk umum (penguasa) Banten Girang yang terusik dengan banyaknya kegiatan dakwah Maulana Hasanuddin yang sukses menarik simpati masyarakat tergolong masyarakat terpencil Wahanten yang adalahwilayah dominasi Wahanten Girang, sampai-sampai pucuk umum Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin guna menghentikan kegiatan dakwahnya dan menantangnya sabung ayam (adu ayam) dengan kriteria andai sabung ayam dimenangkan Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin mesti menghentikan kegiatan dakwahnya. Sabung Ayam juga dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan dia berhak melanjutkan kegiatan dakwahnya Arya Suranggana dan masyarakat yang menampik untuk masuk Islam lantas memilih masuk hutan di distrik Selatan.
Sepeninggal Arya Suranggana, perumahan Banten Girang dipakai sebagai pesanggrahan untuk para penguasa Islam, sangat tidak hingga di penghujung abad ke-17.
Banten Sebagai Kesultanan
Kesultanan Banten menjadi kesultanan yang berdikari pada tahun 1552 sesudah Maulana Hasanuddin ditasbihkan oleh ayahnya yakni Sunan Gunung Jati sebagai Sultan di Banten.
Maulana Hasanuddin pun melanjutkan perluasan dominasi ke wilayah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di area tersebut, selain tersebut ia pun telah mengerjakan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.
Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570 melanjutkan perluasan Banten ke area pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mengupayakan menguasai Palembang tahun 1596 sebagai unsur dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, tetapi gagal sebab ia meninggal dalam penaklukkan tersebut.
Baca Juga : √ Pengertian Ilustrasi Berdasarkan keterangan dari Para Ahli Serta Sejarah, Fungsi Dan Tujuannya
Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja kesatu di Pulau Jawa yang memungut gelar “Sultan” pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Pada masa ini Sultan Banten sudah mulai secara intensif mengerjakan hubungan diplomasi dengan kekuatan beda yang terdapat pada masa-masa itu, di antara diketahui surat Sultan Banten untuk Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 untuk Charles I.
Perang Saudara
Sekitar tahun 1680 hadir perselisihan dalam Kesultanan Banten, dampak perebutan dominasi dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan sokongan kepada Sultan Haji, sampai-sampai perang saudara tidak bisa dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar pun sempat mengantarkan 2 orang utusannya, mendatangi Raja Inggris di London tahun 1682 untuk
mendapatkan sokongan serta pertolongan persenjataan.[1] Dalam perang ini Sultan Ageng darurat mundur dari istananya dan pindah ke area yang dinamakan dengan Tirtayasa, tetapi pada 28 Desember 1682 area ini pun dikuasai oleh Sultan Haji bareng VOC. Sultan Ageng bareng putranya yang beda Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan terpencil Sunda. Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap lantas ditahan di Batavia.
Sementara VOC terus memburu dan mematahkan perlawanan pengekor Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan area Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka sukses menawan Syekh Yusuf.
Sementara sesudah terdesak kesudahannya Pangeran Purbaya mengaku menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati diajak oleh Kapten Johan Ruisj guna menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, tetapi terjadi pertikaian salah satu mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 hingga di Batavia.
Raja-Raja Kerajaan Banten
1. Sultan hasanuddin
Ketika terjadi perebitan dominasi di kerajaan demak, wilayah banten dan cirebon berjuang melepaskan diri dari dominasi demak. akhirnya, banten dan cirebn menjadi kerajaan yang berdaulat, lepas dri pengaruh demak. sultan hasanuddin menjadi raja banten yang kesatu. ia memerintah banten sekitar 18 tahun, yakni tahun 1552 – 1570 M. di bawah pemerintahannya, banten sukses menguasai lampung ( di sumatra ) yang tidak sedikit menghasilkan rempah-rempah dan selat sunda yang adalahjalur kemudian lintas perdagangan.
Selama pemerintahannya, sultan hasanuddin sukses membangun pelabuhan banten menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi semua pedagang dari sekian banyak bangsa.para saudagar dari persia, gujarat, dan venesia berjuang enghindari selat malaka yang dikuasai potugis dan berpindah ke selat sunda. banten lantas berkembang menjdi bandar perniagaan maupun pusat penyebaran agama islam. sesudah sultan hasanuddin wafat pada tahun 1570 M, ia digantikan oleh putranya yakni maulana yusuf.
2. Maulana Yusuf
Maulana yusuf memerintah banten pada tahun 1570-1580 M. pada tahun 1579, maulana yusuf menaklukan kerajaan pajajaran di pakuan ( bogor ) dan sekligus menyinggirkan rajanya yang mempunyai nama prabu sedah. akibatnya, banyk rakyat pajajaran yang menyinggir ke pegunungan. mereka berikut yang kini dikenal sebagai orang-orang baduy atau suku baduy di rangkasbitung banten.
3. Maulana muhammad
Setelah sultan maulana yusuf wafat,putranya yang mempunyai nama maulana muhammad naik tahta pada umur 9 tahun. sebab maulana muhammad masih paling muda, pemerintahan dijalankan mengkubumi jayanegara hingga maulana muhammad dewasa ( 1580-1596 ). enam belas tahun kemudian, sultan maulana muhammad menyerang kesultanan palembang yang di dirikan oleh ki gendeng sure, seorang bangsawan demak. kerajaan banten yang pun keturunan demam merasa berhak atas wilayah palembang. bakal tetapi, banten merasakan kekalahan. sultan maulana muhammad tewas dalam peperangan itu.
4. Pangeran Ratu ( Abdul Mufakhir )
Pangeran ratu,yang berusia 5 bulan, menjadi sultan banten yang ke empat ( 1596-1651 ). hingga pangeran ,dewasa, pemerintahan dijalankan oleh mangkubumi ranamanggala. pada ketika itulah guna kesatu kalinya bangsa belanda yang di pimpin oleh cornelis de houtman, tiba di banten pada tahun 22 juni 1596. pangeran ratu mendapat gelar kanjeng ratu banten. saat wafat, beliau digantikan oleh anaknya yang dikenal dengan nama sultan ageng tirtaayasa.
5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1647 – 1651
6. Sultan Ageng Tirtayasa [ Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah ]
Sultan ageng tirtayasa memerintah banten paada tahun 1651-1682bM, kerajaan banten pada masa beliau menjangkau masa kejayaan. sultan ageng tirtayasa berjuang memperluas distrik kerajaannya ini pada tahun 1671 M, sultan ageng tirtayasa mengusung putranya menjadi raja penolong dengan gelar sultan abdul kahar atau sultan haji. sultan haji menjalin hubungan baik dengan belanda. menyaksikan hal itu, sultan ageng tirtayasa kecewa dan unik kembali jabatan raja pembantu untuk sultan haji, bakal tetapi, sultan haji berjuang mempertahankan dengan meminta pertolongan kepada belanda. akibatnya terjadilah perang saudara. sultan ageng tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan di batavia hingg beliau wafat pada tahun 1691 M.
7. Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar 1683 – 1687
8. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya 1687 – 1690
9. Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin 1690 – 1733
10. Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin 1733 – 1747
11. Ratu Syarifah Fatimah 1747 – 1750
12. Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri 1753 – 1773
13. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin 1773 – 1799
14. Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1799 – 1803
15. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin 1803 – 1808
16. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1809 – 1813
Baca Juga : "Peristiwa 10 November 1945" Definisi & ( Kedatangan Sekutu - Terjadinya )
Peninggalan Kerajaan Banten
Selama berkuasa tidak cukup lebih 3 abad tersebut, kerajaan Banten meninggalkan sejumlah bukti bahwa kerajaan ini pernah berjaya di pulau Jawa .Lantas, apa saja peninggalan kerajaan Banten yaitu inilah ini :
1. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten ialah salah satu bukti peninggalan kerajaan Banten sebagai di antara kerajaan Islam di Indonesia. Masjid yang sedang di desa Banten Lama, kecamatan Kasemen ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Masjid Agung Banten di bina pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan putra kesatu Sunan Gunung Jati yakni Sultan Maulana Hasanudin. Di samping itu, Masjid Agung Banten pun adalahsalah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri hingga sekarang.
Keunikan masjid ini yaitu format menaranya yang serupa mercusuar dan atapnya serupa atap pagoda khas China. Di samping itu, dikiri kanannya bangunan masjid itu ada suatu serambi dan komplek pemakaman sultan Banten bareng keluarganya.
2. Istana Keraton Kaibon
Peninggalan kerajaan Banten yang selanjutnya yakni bangunan Istana Keraton Kaibon. Istana ini dulunya dipakai sebagai lokasi tinggal Bunda Ratu Aisyah yang adalahibu dari Sultan Syaifudin.
Tapi sekarang bangunan ini telah hancur dan bermukim sisa-sisa runtuhannya saja, sebagai dampak dari perselisihan yang pernah terjadi antara kerajaan Banten dengan pemerintahan Belanda di nusantara pada tahun 1832.
3. Istana Keraton Surosowan
Di samping Istana Keraton Kaibon, terdapat satu lagi peninggalan kerajaan Banten yang berupa Istana yakni Istana Keraton Surosowan. Istana ini dipakai sebagai lokasi tinggal Sultan Banten sekaligus menjadi lokasi pusat pemerintahan.
Nasib istana yang di bina pada 1552 ini pun kurang lebih sama dengan Istana Keraton Kaibon, dimana ketika ini bermukim sisa-sisa runtuhan saja yang dapat kita lihat bareng dengan sebuah empang pemandian semua putri kerajaan.
4. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk ialah peninggalan kerajaan Banten sebagai format dalam membina poros pertahanan maritim dominasi kerajaan di masa lalu. Benteng setinggi 3 meter ini di bina pada tahun 1585.
Selain bermanfaat sebagai pertahanan dari serangan laut, benteng ini juga dipakai untuk mengawasi kegiatan pelayaran di dekat Selat Sunda. Benteng ini pun mempunyai Mercusuar, dan didalamnya pun ada sejumlah meriam, serta suatu terowongan yang menghubungkan benteng itu dengan Istana Keraton Surosowan.
5. Danau Tasikardi
Di selama Istana Keraton Kaibon, ada suatu danau produksi yaitu Danau Tasikardi yang diciptakan pada tahun 1570 – 1580 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Danau ini dilapisi dengan ubin dan batu bata.
Danau ini dulunya mempunyai luas selama 5 hektar, tapi sekarang luasnya menyusut sebab dibagian pinggirnya telah tertimbun tanah sedimen yang diangkut oleh arus air hujan dan sungai di sekitar telaga tersebut.
Danau Tasikardi pada masa itu bermanfaat sebagai sumber air utama guna keluarga kerajaan yang bermukim di Istana Keraton Kaibon dan sebagai drainase air irigasi persawahan di dekat Banten.
6. Vihara Avalokitesvara
Walaupun kerajaan Banten ialah kerajaan Islam, namun toleransi antara penduduk biasa dengan pemimpinnya dalam urusan agama paling tinggi. Buktinya ialah adanya peninggalan kerajaan Banten yang berupa bangunan lokasi ibadah agama Budha.
Tempat ibadah umat Budha itu yaitu Vihara Avalokitesvara yang sampai kini masih berdiri kokoh. Yang menarik dari bangunan ini yakni di dinding Vihara itu ada suatu relief yang menceritakan tentang legenda siluman ular putih.
7. Meriam Ki Amuk
Seperti yang dinamakan sebelumnya, di dalam benteng Speelwijk ialah beberapa meriam, dimana diantara meriam-meriam itu ada meriam yang ukurannya sangat besar dan diberi nama meriam ki amuk.
Dinamakan laksana itu, sebab konon katanya meriam ini mempunyai daya tembakan paling jauh dan daya ledaknya paling besar. Meriam ini ialah hasil rampasan kerajaan Banten terhadap pemerintah Belanda pada masa perang.
Kehidupan Politik Kerajaan Banten
Sultan kesatu Kerajaan Banten ini ialah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia ialah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada masa-masa Kerajaan Demak berkuasa, wilayah Banten adalahbagian dari Kerajaan Demak. Namun sesudah Kerajaan Demak merasakan kemunduran, Banten akhirnya mencungkil diri dari pengaruh dominasi Demak.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) menciptakan para saudagar muslim mengalihkan jalur pelayarannya melewati Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas dominasi Banten ke wilayah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah semenjak lama memiliki hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah menempatkan dasar-dasar untuk kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.
Penguasa Banten selanjutnya ialah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 sukses menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya penyokong setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu wilayah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda mendekap agama Islam.
Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang mempunyai nama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten menjangkau puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang mempunyai nama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia paling menentang dominasi Belanda.Usaha untuk mengungguli orang-orang Belanda yang telah menyusun VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilaksanakan oleh Sultan Ageng Tirtayasa merasakan kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten
Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa bisa berkembang menjadi bandar perniagaan dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya strategis dalam kemudian lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga semua pedagang Islam bukan lagi singgah di Malaka tetapi langsung mengarah ke Banten; (3) Banten memiliki bahan ekspor urgen yakni lada.
Baca Juga : "Kongres Pemuda II" Pengertian & ( Persiapan - Pelaksanaan - Peserta - Hasil Keputusan )
Banten yang menjadi maju tidak sedikit dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut keterangan dari asal bangsa itu, laksana orang-orang Arab menegakkan Kampung Pakojan, orang Cina menegakkan Kampung Pacinan, orang-orang Indonesia menegakkan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.
Kehidupan Sosial Dan Budaya Kerajaan Banten
Sejak Banten di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- cicil mulai berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Setelah Banten sukses mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam kian kuat di wilayah pedalaman. Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu ke wilayah Banten Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka dinamakan Pasundan Kawitan yang dengan kata lain Pasundan yang kesatu. Mereka menjaga tradisi-tradisi lama dan menampik pengaruh Islam.
Kehidupan sosial masyarakat Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa lumayan baik, sebab sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun sesudah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam sekian banyak kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni kebiasaan masyarakat ditemukan pada bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten. Di samping itu pun bangunan istana yang di bina oleh Jan Lukas Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang sudah menganut agama Islam. Susunan istananya serupa istana raja di Eropa.
Kehidupan Agama Kerajaan Banten
Berdasarkan data arkeologis, masa mula masyarakat Banten diprovokasi oleh sejumlah kerajaan yang membawa kepercayaan Hindu- Budha, laksana Tarumanagara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.
Dalam Babad Banten mengisahkan bagaimana Sunan Gunung Jati bareng Maulana Hasanuddin, mengerjakan penyebaran agama Islam secara intensif untuk penguasa Banten Girang beserta penduduknya. Beberapa kisah mistis pun mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk saat pada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah untuk penduduk terpencil Sunda, yang ditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran.
Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk mempunyai silsilah sampai untuk Nabi Muhammad, dan menanam para ulama mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya, seiring tersebut tarekat maupun tasawuf pun berkembang di Banten. Sementara kebiasaan masyarakat menyerap Islam sebagai unsur yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi yang ada diprovokasi oleh pertumbuhan Islam di masyarakat, laksana terlihat pada kesenian bela diri Debus.
Kadi memainkan peranan urgen dalam pemerintahan Kesultanan Banten, di samping bertanggungjawab dalam solusi sengketa rakyat di pengadilan agama, pun dalam penegakan hukum Islam laksana hudud.
Toleransi umat beragama di Banten, berkembang dengan baik. Walau didominasi oleh muslim, tetapi komunitas tertentu diperkenankan membina sarana peribadatan mereka, di mana selama tahun 1673 sudah berdiri sejumlah klenteng pada area sekitar pelabuhan Banten.
Kejayaan Kerajaan Banten
Kerajaan Banten menjangkau kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Dimana, Banten membina armada dengan misal Eropa serta memberi upah untuk pekerja Eropa. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangat membangkang Belanda yang terbentuk dalam VOC dan berjuang keluar dari desakan VOC yang telah mengepung kapal dagang mengarah ke Banten. Di samping itu, Banten pun melakukan monopoli Lada di Lampung yang menjadi perantara perniagaan dengan negara-negara lain sampai-sampai Banten menjadi distrik yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.
Runtuhnya Kerajaan Banten
Kerajaan Banten merasakan kemunduruan bermula dari bentrokan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memihak untuk Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bareng dua putranya yang lain mempunyai nama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf darurat mundur dan pergi ke arah terpencil Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng sukses ditangkap dan disangga di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga sukses ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya memberikan diri.
Atas kemenangannya itu, Sultan Haji menyerahkan balasan untuk VOC berupa penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 ada surat perjanjian bahwa Hak monopoli perniagaan lada Lampung jatuh ketangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun 1687. Setelah itu, VOC menguasai Banten sehingga pelantikan Sultan Banten mesti mendapat persetujuan Gubernur Jendral Hindian Belanda di Batavia.
Terpilihlah Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya sebagai pengganti Sultan Haji lantas digantikan oleh Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Aabidin. Pada tahun 1808-1810, Gubernur Hindia Jenderal Belanda menyerang Banten pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.
Penyerangan tersebut dampak Sultan menampik permintaan Hindia Belanda untuk mengalihkan ibu kota Banten ke Anyer. Pada akhirnya, tahun 1813 Banten sudah runtuh ditangan Inggris.
Warisan Sejarah Kerajaan Banten
Setelah dihapuskannya Kesultanan Banten, distrik Banten menjadi unsur dari area kolonialisasi. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1817 Banten dijadikan keresidenan, dan semenjak tahun 1926 wilayah itu menjadi unsur dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan masa kemudian Kesultanan Banten menginspirasikan masyarakatnya guna menjadikan area Banten berubah menjadi satu area otonomi,
reformasi pemerintahan Indonesia berperan mendorong area Banten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian diputuskan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Selain tersebut masyarakat Banten sudah menjadi satu kelompok etnik tersendiri yang diwarnai oleh perpaduan antar-etnis yang pernah terdapat pada masa kejayaan Kesultanan Banten, dan keberagaman ini pernah menjadikan masyarakat Banten sebagai di antara kekuatan yang berpengaruh di Nusantara.
kerajaan banten
Contents
1 Sejarah Kerajaan Banten
2 Syiar Islam ke Banten dan Pendirian Kesultanan Banten
3 Penguasaan Banten
4 Banten Sebagai Kesultanan
5 Perang Saudara
6 Raja-Raja Kerajaan Banten
7 1. Sultan hasanuddin
8 Peninggalan Kerajaan Banten
9 Kehidupan Politik Kerajaan Banten
10 Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten
11 Kehidupan Sosial Dan Budaya Kerajaan Banten
12 Kehidupan Agama Kerajaan Banten
13 Kejayaan Kerajaan Banten
14 Runtuhnya Kerajaan Banten
15 Warisan Sejarah Kerajaan Banten
15.1 Posting bersangkutan:
Sejarah Kerajaan Banten
Pada mula abad ke-16, wilayah pajajaran yang beragama hindu. pusat kerajaan ini bertempat di pakuan ( kini bogor ). kerajaan pajajaran mempunyai bandar-bandar urgen seperti banten, sunda kelapa ( jakarta ) dan cirebon.
Kerajaan pajajaran telah menyelenggarakan kerja sama dengan portugis. oleh kerena itu, portugis diperbolehkan mendirikan kantor dagang dan benteng pertahanan di sunda kelapa. untuk menahan pengaruh portugis di pajajaran, sultan trenggono dari demak memrintahkan fatahilah selaku panglima perang demak guna menaklukan bandar-bandar pajajaran. pada tahun 1526, armada demak sukses menguasai banten.
Pasukan fatahillah juga sukses merebut pelabuhan sunda kelapa pada tanggal 22 juni 1527. sejak ketika iru nama “sunda kelapa” diolah menjadi “jayakarta” atau “jakarta” yang berarti kota kemenanggan. tanggal tersebut ( 22 juni ), lantas dijadikan hari jadi kota jakarta.
Dalam masa-masa singkat. semua pantai unsur utara jawa barat bisa dikuasai fatahillah,agama islam lambat laun tersebar di jawa barat. fatahillah lantas menjadi wali ( ulama besar ) dengan gelar sunan gunung jati dan berkedudukan di cirebon. Pada tahun 1552, putra fatahillah yang mempunyai nama hasanudin diusung menjadi penguasa banten. putranya yang lain, pasarean diusung menjadi penguasa di cirebon. fatahillah sendiri menegakkan pusat pekerjaan keagamaan di gunung jati, cirebon hingga beliau wafat pada tahun pada tahun 1568. jadi, pada tadinya kerajaan banten adalahwilayah dominasi kerajaan demak.
Syiar Islam ke Banten dan Pendirian Kesultanan Banten
Pada masa mula kedatangannya ke Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bareng dengan Pangeran Walangsungsang sempat mengerjakan syiar Islam di distrik Banten yang pada masa tersebut disebut sebagai Wahanten, Syarif Hidayatullah dalam syiarnya menyatakan bahwa makna jihad (perang) tidak melulu dimaksudkan perang melawan musuh-musuh saja namun pun perang melawan hawa nafsu, keterangan inilah yang lantas menarik hati masyarakat Wahanten dan pucuk umum (penguasa) Wahanten Pasisir.
Pada masa tersebut di distrik Wahanten ada dua penguasa yakni Sang Surosowan (anak dari prabu Jaya Dewata atau Silih Wangi) yang menjadi pucuk umum (penguasa) guna wilayah Wahanten Pasisir dan Arya Suranggana yang menjadi pucuk umum guna wilayah Wahanten Girang.
Di distrik Wahanten Pasisir Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Kawung anten (putri dari Sang Surosowan), dua-duanya kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak yakni Ratu Winaon (lahir pada 1477 m) dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin : nama pemberian dari kakeknya Sang Surosowan) yang bermunculan pada 1478 m. Sang Surosowan walaupun tidak mendekap agama Islam tetapi sangat toleran untuk para pemeluk Islam yang datang ke wilayahnya.
Syarif Hidayatullah lantas kembali ke kesultanan Cirebon guna menerima tanggung jawab sebagai penguasa kesultanan Cirebon pada 1479 sesudah sebelumnya menghadiri rapat semua wali di
Tuban yang menghasilkan keputusan menjadikan Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin dari semua wali.
Penguasaan Banten
Pada tahun 1522, Maulana Hasanuddin membina kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, pada masa itu dia pun membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di area Pacitan. Sementara yang menjadi pucuk umum (penguasa) di Wahanten Pasisir ialah Arya Surajaya (putra dari Sang Surosowan dan paman dari Maulana Hasanuddin) sesudah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 m. Arya Surajaya diduga masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir sampai tahun 1526 m.
Pada tahun 1524 m, Sunan Gunung Jati bareng pasukan campuran dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak tiba di pelabuhan Banten. Pada masa ini tidak ada pengakuan yang mengaku bahwa Wahanten Pasisir merintangi kedatangan pasukan campuran Sunan Gunung Jati sampai-sampai pasukan difokuskan guna merebut Wahanten Girang.
Dalam Carita Sajarah Banten disebutkan ketika pasukan campuran kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak menjangkau Wahanten Girang, Ki Jongjo (seorang kepala prajurit penting) dengan sukarela memihak untuk Maulana Hasanuddin.
Dalam sumber-sumber lisan dan tradisional dikisahkan bahwa pucuk umum (penguasa) Banten Girang yang terusik dengan banyaknya kegiatan dakwah Maulana Hasanuddin yang sukses menarik simpati masyarakat tergolong masyarakat terpencil Wahanten yang adalahwilayah dominasi Wahanten Girang, sampai-sampai pucuk umum Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin guna menghentikan kegiatan dakwahnya dan menantangnya sabung ayam (adu ayam) dengan kriteria andai sabung ayam dimenangkan Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin mesti menghentikan kegiatan dakwahnya. Sabung Ayam juga dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan dia berhak melanjutkan kegiatan dakwahnya Arya Suranggana dan masyarakat yang menampik untuk masuk Islam lantas memilih masuk hutan di distrik Selatan.
Sepeninggal Arya Suranggana, perumahan Banten Girang dipakai sebagai pesanggrahan untuk para penguasa Islam, sangat tidak hingga di penghujung abad ke-17.
Banten Sebagai Kesultanan
Kesultanan Banten menjadi kesultanan yang berdikari pada tahun 1552 sesudah Maulana Hasanuddin ditasbihkan oleh ayahnya yakni Sunan Gunung Jati sebagai Sultan di Banten.
Maulana Hasanuddin pun melanjutkan perluasan dominasi ke wilayah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di area tersebut, selain tersebut ia pun telah mengerjakan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.
Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570 melanjutkan perluasan Banten ke area pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mengupayakan menguasai Palembang tahun 1596 sebagai unsur dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, tetapi gagal sebab ia meninggal dalam penaklukkan tersebut.
Baca Juga : √ Pengertian Ilustrasi Berdasarkan keterangan dari Para Ahli Serta Sejarah, Fungsi Dan Tujuannya
Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja kesatu di Pulau Jawa yang memungut gelar “Sultan” pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Pada masa ini Sultan Banten sudah mulai secara intensif mengerjakan hubungan diplomasi dengan kekuatan beda yang terdapat pada masa-masa itu, di antara diketahui surat Sultan Banten untuk Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 untuk Charles I.
Perang Saudara
Sekitar tahun 1680 hadir perselisihan dalam Kesultanan Banten, dampak perebutan dominasi dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan sokongan kepada Sultan Haji, sampai-sampai perang saudara tidak bisa dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar pun sempat mengantarkan 2 orang utusannya, mendatangi Raja Inggris di London tahun 1682 untuk
mendapatkan sokongan serta pertolongan persenjataan.[1] Dalam perang ini Sultan Ageng darurat mundur dari istananya dan pindah ke area yang dinamakan dengan Tirtayasa, tetapi pada 28 Desember 1682 area ini pun dikuasai oleh Sultan Haji bareng VOC. Sultan Ageng bareng putranya yang beda Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan terpencil Sunda. Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap lantas ditahan di Batavia.
Sementara VOC terus memburu dan mematahkan perlawanan pengekor Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan area Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka sukses menawan Syekh Yusuf.
Sementara sesudah terdesak kesudahannya Pangeran Purbaya mengaku menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati diajak oleh Kapten Johan Ruisj guna menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, tetapi terjadi pertikaian salah satu mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 hingga di Batavia.
Raja-Raja Kerajaan Banten
1. Sultan hasanuddin
Ketika terjadi perebitan dominasi di kerajaan demak, wilayah banten dan cirebon berjuang melepaskan diri dari dominasi demak. akhirnya, banten dan cirebn menjadi kerajaan yang berdaulat, lepas dri pengaruh demak. sultan hasanuddin menjadi raja banten yang kesatu. ia memerintah banten sekitar 18 tahun, yakni tahun 1552 – 1570 M. di bawah pemerintahannya, banten sukses menguasai lampung ( di sumatra ) yang tidak sedikit menghasilkan rempah-rempah dan selat sunda yang adalahjalur kemudian lintas perdagangan.
Selama pemerintahannya, sultan hasanuddin sukses membangun pelabuhan banten menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi semua pedagang dari sekian banyak bangsa.para saudagar dari persia, gujarat, dan venesia berjuang enghindari selat malaka yang dikuasai potugis dan berpindah ke selat sunda. banten lantas berkembang menjdi bandar perniagaan maupun pusat penyebaran agama islam. sesudah sultan hasanuddin wafat pada tahun 1570 M, ia digantikan oleh putranya yakni maulana yusuf.
2. Maulana Yusuf
Maulana yusuf memerintah banten pada tahun 1570-1580 M. pada tahun 1579, maulana yusuf menaklukan kerajaan pajajaran di pakuan ( bogor ) dan sekligus menyinggirkan rajanya yang mempunyai nama prabu sedah. akibatnya, banyk rakyat pajajaran yang menyinggir ke pegunungan. mereka berikut yang kini dikenal sebagai orang-orang baduy atau suku baduy di rangkasbitung banten.
3. Maulana muhammad
Setelah sultan maulana yusuf wafat,putranya yang mempunyai nama maulana muhammad naik tahta pada umur 9 tahun. sebab maulana muhammad masih paling muda, pemerintahan dijalankan mengkubumi jayanegara hingga maulana muhammad dewasa ( 1580-1596 ). enam belas tahun kemudian, sultan maulana muhammad menyerang kesultanan palembang yang di dirikan oleh ki gendeng sure, seorang bangsawan demak. kerajaan banten yang pun keturunan demam merasa berhak atas wilayah palembang. bakal tetapi, banten merasakan kekalahan. sultan maulana muhammad tewas dalam peperangan itu.
4. Pangeran Ratu ( Abdul Mufakhir )
Pangeran ratu,yang berusia 5 bulan, menjadi sultan banten yang ke empat ( 1596-1651 ). hingga pangeran ,dewasa, pemerintahan dijalankan oleh mangkubumi ranamanggala. pada ketika itulah guna kesatu kalinya bangsa belanda yang di pimpin oleh cornelis de houtman, tiba di banten pada tahun 22 juni 1596. pangeran ratu mendapat gelar kanjeng ratu banten. saat wafat, beliau digantikan oleh anaknya yang dikenal dengan nama sultan ageng tirtaayasa.
5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1647 – 1651
6. Sultan Ageng Tirtayasa [ Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah ]
Sultan ageng tirtayasa memerintah banten paada tahun 1651-1682bM, kerajaan banten pada masa beliau menjangkau masa kejayaan. sultan ageng tirtayasa berjuang memperluas distrik kerajaannya ini pada tahun 1671 M, sultan ageng tirtayasa mengusung putranya menjadi raja penolong dengan gelar sultan abdul kahar atau sultan haji. sultan haji menjalin hubungan baik dengan belanda. menyaksikan hal itu, sultan ageng tirtayasa kecewa dan unik kembali jabatan raja pembantu untuk sultan haji, bakal tetapi, sultan haji berjuang mempertahankan dengan meminta pertolongan kepada belanda. akibatnya terjadilah perang saudara. sultan ageng tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan di batavia hingg beliau wafat pada tahun 1691 M.
7. Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar 1683 – 1687
8. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya 1687 – 1690
9. Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin 1690 – 1733
10. Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin 1733 – 1747
11. Ratu Syarifah Fatimah 1747 – 1750
12. Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri 1753 – 1773
13. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin 1773 – 1799
14. Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1799 – 1803
15. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin 1803 – 1808
16. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1809 – 1813
Baca Juga : "Peristiwa 10 November 1945" Definisi & ( Kedatangan Sekutu - Terjadinya )
Peninggalan Kerajaan Banten
Selama berkuasa tidak cukup lebih 3 abad tersebut, kerajaan Banten meninggalkan sejumlah bukti bahwa kerajaan ini pernah berjaya di pulau Jawa .Lantas, apa saja peninggalan kerajaan Banten yaitu inilah ini :
1. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten ialah salah satu bukti peninggalan kerajaan Banten sebagai di antara kerajaan Islam di Indonesia. Masjid yang sedang di desa Banten Lama, kecamatan Kasemen ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Masjid Agung Banten di bina pada tahun 1652, tepat pada masa pemerintahan putra kesatu Sunan Gunung Jati yakni Sultan Maulana Hasanudin. Di samping itu, Masjid Agung Banten pun adalahsalah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri hingga sekarang.
Keunikan masjid ini yaitu format menaranya yang serupa mercusuar dan atapnya serupa atap pagoda khas China. Di samping itu, dikiri kanannya bangunan masjid itu ada suatu serambi dan komplek pemakaman sultan Banten bareng keluarganya.
2. Istana Keraton Kaibon
Peninggalan kerajaan Banten yang selanjutnya yakni bangunan Istana Keraton Kaibon. Istana ini dulunya dipakai sebagai lokasi tinggal Bunda Ratu Aisyah yang adalahibu dari Sultan Syaifudin.
Tapi sekarang bangunan ini telah hancur dan bermukim sisa-sisa runtuhannya saja, sebagai dampak dari perselisihan yang pernah terjadi antara kerajaan Banten dengan pemerintahan Belanda di nusantara pada tahun 1832.
3. Istana Keraton Surosowan
Di samping Istana Keraton Kaibon, terdapat satu lagi peninggalan kerajaan Banten yang berupa Istana yakni Istana Keraton Surosowan. Istana ini dipakai sebagai lokasi tinggal Sultan Banten sekaligus menjadi lokasi pusat pemerintahan.
Nasib istana yang di bina pada 1552 ini pun kurang lebih sama dengan Istana Keraton Kaibon, dimana ketika ini bermukim sisa-sisa runtuhan saja yang dapat kita lihat bareng dengan sebuah empang pemandian semua putri kerajaan.
4. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk ialah peninggalan kerajaan Banten sebagai format dalam membina poros pertahanan maritim dominasi kerajaan di masa lalu. Benteng setinggi 3 meter ini di bina pada tahun 1585.
Selain bermanfaat sebagai pertahanan dari serangan laut, benteng ini juga dipakai untuk mengawasi kegiatan pelayaran di dekat Selat Sunda. Benteng ini pun mempunyai Mercusuar, dan didalamnya pun ada sejumlah meriam, serta suatu terowongan yang menghubungkan benteng itu dengan Istana Keraton Surosowan.
5. Danau Tasikardi
Di selama Istana Keraton Kaibon, ada suatu danau produksi yaitu Danau Tasikardi yang diciptakan pada tahun 1570 – 1580 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Danau ini dilapisi dengan ubin dan batu bata.
Danau ini dulunya mempunyai luas selama 5 hektar, tapi sekarang luasnya menyusut sebab dibagian pinggirnya telah tertimbun tanah sedimen yang diangkut oleh arus air hujan dan sungai di sekitar telaga tersebut.
Danau Tasikardi pada masa itu bermanfaat sebagai sumber air utama guna keluarga kerajaan yang bermukim di Istana Keraton Kaibon dan sebagai drainase air irigasi persawahan di dekat Banten.
6. Vihara Avalokitesvara
Walaupun kerajaan Banten ialah kerajaan Islam, namun toleransi antara penduduk biasa dengan pemimpinnya dalam urusan agama paling tinggi. Buktinya ialah adanya peninggalan kerajaan Banten yang berupa bangunan lokasi ibadah agama Budha.
Tempat ibadah umat Budha itu yaitu Vihara Avalokitesvara yang sampai kini masih berdiri kokoh. Yang menarik dari bangunan ini yakni di dinding Vihara itu ada suatu relief yang menceritakan tentang legenda siluman ular putih.
7. Meriam Ki Amuk
Seperti yang dinamakan sebelumnya, di dalam benteng Speelwijk ialah beberapa meriam, dimana diantara meriam-meriam itu ada meriam yang ukurannya sangat besar dan diberi nama meriam ki amuk.
Dinamakan laksana itu, sebab konon katanya meriam ini mempunyai daya tembakan paling jauh dan daya ledaknya paling besar. Meriam ini ialah hasil rampasan kerajaan Banten terhadap pemerintah Belanda pada masa perang.
Kehidupan Politik Kerajaan Banten
Sultan kesatu Kerajaan Banten ini ialah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia ialah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada masa-masa Kerajaan Demak berkuasa, wilayah Banten adalahbagian dari Kerajaan Demak. Namun sesudah Kerajaan Demak merasakan kemunduran, Banten akhirnya mencungkil diri dari pengaruh dominasi Demak.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) menciptakan para saudagar muslim mengalihkan jalur pelayarannya melewati Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas dominasi Banten ke wilayah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah semenjak lama memiliki hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah menempatkan dasar-dasar untuk kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.
Penguasa Banten selanjutnya ialah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 sukses menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya penyokong setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu wilayah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda mendekap agama Islam.
Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang mempunyai nama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten menjangkau puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang mempunyai nama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia paling menentang dominasi Belanda.Usaha untuk mengungguli orang-orang Belanda yang telah menyusun VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilaksanakan oleh Sultan Ageng Tirtayasa merasakan kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten
Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa bisa berkembang menjadi bandar perniagaan dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya strategis dalam kemudian lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga semua pedagang Islam bukan lagi singgah di Malaka tetapi langsung mengarah ke Banten; (3) Banten memiliki bahan ekspor urgen yakni lada.
Baca Juga : "Kongres Pemuda II" Pengertian & ( Persiapan - Pelaksanaan - Peserta - Hasil Keputusan )
Banten yang menjadi maju tidak sedikit dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut keterangan dari asal bangsa itu, laksana orang-orang Arab menegakkan Kampung Pakojan, orang Cina menegakkan Kampung Pacinan, orang-orang Indonesia menegakkan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.
Kehidupan Sosial Dan Budaya Kerajaan Banten
Sejak Banten di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- cicil mulai berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Setelah Banten sukses mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam kian kuat di wilayah pedalaman. Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu ke wilayah Banten Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka dinamakan Pasundan Kawitan yang dengan kata lain Pasundan yang kesatu. Mereka menjaga tradisi-tradisi lama dan menampik pengaruh Islam.
Kehidupan sosial masyarakat Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa lumayan baik, sebab sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun sesudah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam sekian banyak kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni kebiasaan masyarakat ditemukan pada bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten. Di samping itu pun bangunan istana yang di bina oleh Jan Lukas Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang sudah menganut agama Islam. Susunan istananya serupa istana raja di Eropa.
Kehidupan Agama Kerajaan Banten
Berdasarkan data arkeologis, masa mula masyarakat Banten diprovokasi oleh sejumlah kerajaan yang membawa kepercayaan Hindu- Budha, laksana Tarumanagara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.
Dalam Babad Banten mengisahkan bagaimana Sunan Gunung Jati bareng Maulana Hasanuddin, mengerjakan penyebaran agama Islam secara intensif untuk penguasa Banten Girang beserta penduduknya. Beberapa kisah mistis pun mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk saat pada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah untuk penduduk terpencil Sunda, yang ditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran.
Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk mempunyai silsilah sampai untuk Nabi Muhammad, dan menanam para ulama mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya, seiring tersebut tarekat maupun tasawuf pun berkembang di Banten. Sementara kebiasaan masyarakat menyerap Islam sebagai unsur yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi yang ada diprovokasi oleh pertumbuhan Islam di masyarakat, laksana terlihat pada kesenian bela diri Debus.
Kadi memainkan peranan urgen dalam pemerintahan Kesultanan Banten, di samping bertanggungjawab dalam solusi sengketa rakyat di pengadilan agama, pun dalam penegakan hukum Islam laksana hudud.
Toleransi umat beragama di Banten, berkembang dengan baik. Walau didominasi oleh muslim, tetapi komunitas tertentu diperkenankan membina sarana peribadatan mereka, di mana selama tahun 1673 sudah berdiri sejumlah klenteng pada area sekitar pelabuhan Banten.
Kejayaan Kerajaan Banten
Kerajaan Banten menjangkau kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Dimana, Banten membina armada dengan misal Eropa serta memberi upah untuk pekerja Eropa. Namun, Sultan Ageng Tirtayasa sangat membangkang Belanda yang terbentuk dalam VOC dan berjuang keluar dari desakan VOC yang telah mengepung kapal dagang mengarah ke Banten. Di samping itu, Banten pun melakukan monopoli Lada di Lampung yang menjadi perantara perniagaan dengan negara-negara lain sampai-sampai Banten menjadi distrik yang multi etnis dan perdagangannya berkembang dengan pesat.
Runtuhnya Kerajaan Banten
Kerajaan Banten merasakan kemunduruan bermula dari bentrokan antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji atas dasar perebutan kekuasaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memihak untuk Sultan Haji. Kemudian Sultan Ageng bareng dua putranya yang lain mempunyai nama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf darurat mundur dan pergi ke arah terpencil Sunda. Namun, pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng sukses ditangkap dan disangga di Batavia. Dilanjutkan pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf juga sukses ditawan oleh VOC dan Pangeran purbaya akhirnya memberikan diri.
Atas kemenangannya itu, Sultan Haji menyerahkan balasan untuk VOC berupa penyerahan Lampung pada tahun 1682. Kemudian pada 22 Agustus 1682 ada surat perjanjian bahwa Hak monopoli perniagaan lada Lampung jatuh ketangan VOC. Sultan Haji meninggal pada tahun 1687. Setelah itu, VOC menguasai Banten sehingga pelantikan Sultan Banten mesti mendapat persetujuan Gubernur Jendral Hindian Belanda di Batavia.
Terpilihlah Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya sebagai pengganti Sultan Haji lantas digantikan oleh Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Aabidin. Pada tahun 1808-1810, Gubernur Hindia Jenderal Belanda menyerang Banten pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.
Penyerangan tersebut dampak Sultan menampik permintaan Hindia Belanda untuk mengalihkan ibu kota Banten ke Anyer. Pada akhirnya, tahun 1813 Banten sudah runtuh ditangan Inggris.
Warisan Sejarah Kerajaan Banten
Setelah dihapuskannya Kesultanan Banten, distrik Banten menjadi unsur dari area kolonialisasi. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1817 Banten dijadikan keresidenan, dan semenjak tahun 1926 wilayah itu menjadi unsur dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan masa kemudian Kesultanan Banten menginspirasikan masyarakatnya guna menjadikan area Banten berubah menjadi satu area otonomi,
reformasi pemerintahan Indonesia berperan mendorong area Banten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian diputuskan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Selain tersebut masyarakat Banten sudah menjadi satu kelompok etnik tersendiri yang diwarnai oleh perpaduan antar-etnis yang pernah terdapat pada masa kejayaan Kesultanan Banten, dan keberagaman ini pernah menjadikan masyarakat Banten sebagai di antara kekuatan yang berpengaruh di Nusantara.
Komentar
Posting Komentar