Kursus komputer majalengka - SEJARAH MASJID ISTIQLAL JAKARTA
Kursus komputer majalengka
masjid ini ialah masjid kehormatan hati rakyat indonesia. masjid ini mempunyai nama istiqlal . barangkali masih tidak sedikit di antara kalain yang belum tau sejarahnya masjid ini di bangun atau siapa sih yang bangun masjid ini dan siapa arsiteknya.? baiklah sobat muslimin, kami bakal membagikan tulisan tentang masjid istiqlal di bawa ini..
……cekidot……..
NAMA MASJID
Masjid Istiqlal adalahmasjid negara Indonesia, yakni masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena menyandang kedudukan terhormat ini maka masjid ini mesti bisa menjadi kehormatan hati bangsa Indonesia sekaligus mencerminkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini di bina sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang beberapa besar beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah mengaruniakan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini disebut “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.
SEJARAH
Setelah perang kebebasan Indonesia, mulai berkembang usulan besar untuk menegakkan masjid nasional. Ide pembangunan masjid tercetus sesudah empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang semenjak zaman kerajaan purba pernah membina bangunan monumental keagamaan yang menggambarkan kejayaan negara. Misalnya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia sudah berjaya membina candi Borobudur dan Prambanan. Karena itulah pada masa kebebasan Indonesia terbit usulan membangun masjid agung yang megah dan layak menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
PERENCANAAN
Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu tersebut menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam menyelenggarakan pertemuan dengan sebanyak tokoh Islam di Deca Park, suatu gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membicarakan rencana pembangunan masjid. Gedung pertemuan yang berdampingan dengan Istana Merdeka itu, sekarang tinggal sejarah. Deca Park dan sejumlah gedung lainnya tergusur ketika proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai.
Masjid itu disepakati bakal diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah mencerminkan rasa syukur untuk Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kebebasan bangsa.
Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Dia pun ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal meskipun dia terlambat muncul karena baru pulang ke tanah air sesudah bertugas sebagai utusan Indonesia ke Jepang merundingkan masalah pampasan perang ketika itu.
Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, mengadukan rencana pembangunan masjid tersebut kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan menolong sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal diabsahkan dihadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember 1954.
Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal semenjak dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diberitahukan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Februari 1955. Melalui pemberitahuan tersebut, semua arsitek baik perorangan maupun kelembagaan diundang guna turut serta dalam sayembara itu.
Terjadi perbedaan pendapat tentang rencana tempat pembangunan Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) berasumsi bahwa tempat yang sangat tepat guna pembangunan Masjid Istiqlal tersebut ialah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang sekarang menjadi tempat Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan tempat tersebut sedang di lingkungan masyarakat Muslim dan waktu tersebut belum terdapat bangunan di atasnya.
Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI saat) mengusulkan tempat pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya ada reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perniagaan serta dekat dengan Istana Merdeka. Hal ini cocok dengan simbol dominasi kraton di Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid mesti selalu berdampingan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun,[1] dan Taman Medan Merdeka dirasakan sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain tersebut Soekarno pun menghendaki masjid negara Indonesia ini bersebelahan dengan Gereja Katedral Jakarta untuk menggambarkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama cocok Pancasila.
Pendapat H. Moh. Hatta itu akan lebih irit karena tidak bakal mengeluarkan ongkos untuk penggusuran bangunan-bangunan yang terdapat di atas dan di dekat lokasi. Namun, setelah dilaksanakan musyawarah, akhirnya diputuskan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Bagi memberi tempat untuk masjid ini, bekas benteng Belanda yakni benteng Prins Frederick yang di bina pada tahun 1837 dibongkar.
PEMBANGUNAN
Pemancangan tiang kesatu dilaksanakan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ditonton oleh ribuan umat Islam.[6]
Selanjutnya pengamalan pembangunan masjid ini tidak berlangsung lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 hingga dengan 1965 tidak mengalami tidak sedikit kemajuan. Proyek ini tersendat, sebab situasi politik yang tidak cukup kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai guna memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 ketika meletus peristiwa G30S/PKI, sampai-sampai pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah kondisi politik mereda,pada tahun 1966, Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori pulang pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang beraksi sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.
Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal berlalu dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978,[7] ditandai dengan prasasti yang dipasang di lokasi tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan didapatkan terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua belas juta dollar AS).
PERISTIWA KONTEMPORER
Karena Masjid Istiqlal ialah masjid nasional Republik Indonesia, masing-masing upacara atau peringatan hari besar Islam senantiasa dilangsungkan di masjid ini. Misalnya Hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi’raj, dan Maulid Nabi dilangsungkan di masjid ini dan diliput televisi nasional. Bagi turut meramaikan perhelatan Visit Indonesia Year 1991 digelarlah Festival Istiqlal yang kesatu pada tahun 1991. Festival ini dilangsungkan untuk memamerkan seni dan kebudayaan Islam Indonesia, turut muncul perwakilan negara kawan berpenduduk muslim laksana Iran, Arab Saudi, dan perwakilan muslim China dari Uighur. Festival Istiqlal yang kedua dilangsungkan pada tahun 1995 untuk mengenang 50 tahun kebebasan Republik Indonesia.
Pada pukul 15.20 WIB hari Senin, 19 April 1999 bom meledak di lantai dasar Masjid Istiqlal. Letusan ini meretakkan tembok dan memecahkan kaca sejumlah kantor organisasi Islam yang berkantor di Masjid Istiqlal, tergolong kantor Majelis Ulama Indonesia. Dua orang terluka dampak ledakan ini.[8] Pada bulan Juni 1999 Polisi memberitahukan tujuh orang pengamen terduga pelaku pengeboman Masjid Istiqlal yang sudah ditangkap. Ketujuh orang ini ialah pelaksana yang menanam bom di Masjid Istiqlal, meskipun demikian siapakah benak perencana di balik pengeboman ini masih belum terungkap jelas.[9]
Karena letak Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang bedampingan, maka kedekatan ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Kendaraan umat Katolik yang merayakan misa hari besar keagamaan Katolik diperkenankan memakai lahan parkir Masjid Istiqlal.[10]
PENGUNJUNG
Barack dan Michelle Obama mendatangi Masjid Istiqlal diberikan panduan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Kyai al-Hajj Ali Musthafa Ya’qub pada tanggal 10 November 2010.
Sebagai masjid terbesar di Kawasan Timur Asia (Asia Tenggara dan Asia Timur), Masjid Istiqlal unik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri, khususnya wisatawan muslim yang datang dari sekian banyak penjuru Indonesia ataupun wisatawan muslim dari luar negeri. Pengunjung muslim bisa langsung masuk dan berbaur dengan jemaah untuk membayar salat berjamaah. Wisatawan non-Muslim diperbolehkan berangjangsana dan menginjak masjid ini, sesudah sebelumnya mendapat pembekalan informasi tentang Islam dan Masjid Istiqlal. Pengunjung non-Muslim mesti mengekor tata teknik mengunjungi masjid seperti mencungkil alas kaki serta mengenakan busana yang sopan dan pantas. Misalnya pengunjung tidak diperkenankan mengenakan celana pendek atau pakaian yang tidak cukup pantas (busana lengan pendek, kaus kutang atau tank top). Pengunjung yang mengenakan celana pendek seringkali dipinjamkan sarung, sementara pengunjung perempuan diminta mengenakan kerudung. Meskipun demikian unsur yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan mesti didampingi pemandu. Misalnya pengunjung non-Muslim (kecuali tamu negara atau VVIP) tidak diperkenankan menginjak lantai kesatu ruang utama lokasi mihrab dan mimbar, tetapi diizinkan melihat unsur dalam ruangan ini dari balkon lantai kedua. Selebihnya pengunjung non-Muslim boleh mendatangi bagian lain laksana pelataran terbuka, selasar, kaki menara dan ridor masjid.
Setelah presiden Amerika Serikat Barack Obama didampingi istrinya mendatangi Masjid Istiqal pada November 2010, makin tidak sedikit wisatawan asing yang berangjangsana ke masjid ini, rata-rata selama 20 wisatawan asing mendatangi masjid ini tiap harinya. Kebanyakan berasal dari Eropa.[11]Para tokoh urgen asing familiar yang pernah mendatangi Masjid Istiqlal antara lain; Bill Clinton Presiden Amerika Serikat pada tahun 1994, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Libya Muammar Gaddafi, Pangeran Charles dari Britania Raya, Li Yuanchao wakil ketua Partai Komunis China, Presiden Cile Sebastián Piñera, Heinz Fischer Presiden Austria, dan Jens Stoltenberg Perdana Menteri Norwegia,[12] dan Kanselir Jerman Angela Merkel pada tahun 2012.[13]
ARSITEKTUR
Sebagai masjid negara Indonesia, Masjid Istiqlal diinginkan dapat menampung jamaah dalam jumlah yang besar. Karena tersebut arsitekturnya merealisasikan prinsip minimalis, dengan mempertimbangkan keberadaannya di area beriklim tropis. Masjid dirancang supaya udara bisa bebas bersirkulasi sampai-sampai ruangan tetap sejuk, sedangkan jemaah terbebas dari panas matahari dan hujan. Ruangan salat yang sedang di lantai utama dan tersingkap sekelilingnya dijepit oleh plaza atau pelataran tersingkap di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang dengan bukaan lowong yang lebar di antaranya, dimaksudkan untuk mempermudah sirkulasi udara dan penerangan yang alami.
masjid ini ialah masjid kehormatan hati rakyat indonesia. masjid ini mempunyai nama istiqlal . barangkali masih tidak sedikit di antara kalain yang belum tau sejarahnya masjid ini di bangun atau siapa sih yang bangun masjid ini dan siapa arsiteknya.? baiklah sobat muslimin, kami bakal membagikan tulisan tentang masjid istiqlal di bawa ini..
……cekidot……..
NAMA MASJID
Masjid Istiqlal adalahmasjid negara Indonesia, yakni masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena menyandang kedudukan terhormat ini maka masjid ini mesti bisa menjadi kehormatan hati bangsa Indonesia sekaligus mencerminkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini di bina sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang beberapa besar beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah mengaruniakan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini disebut “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.
SEJARAH
Setelah perang kebebasan Indonesia, mulai berkembang usulan besar untuk menegakkan masjid nasional. Ide pembangunan masjid tercetus sesudah empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang semenjak zaman kerajaan purba pernah membina bangunan monumental keagamaan yang menggambarkan kejayaan negara. Misalnya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia sudah berjaya membina candi Borobudur dan Prambanan. Karena itulah pada masa kebebasan Indonesia terbit usulan membangun masjid agung yang megah dan layak menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
PERENCANAAN
Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu tersebut menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam menyelenggarakan pertemuan dengan sebanyak tokoh Islam di Deca Park, suatu gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membicarakan rencana pembangunan masjid. Gedung pertemuan yang berdampingan dengan Istana Merdeka itu, sekarang tinggal sejarah. Deca Park dan sejumlah gedung lainnya tergusur ketika proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai.
Masjid itu disepakati bakal diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah mencerminkan rasa syukur untuk Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kebebasan bangsa.
Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Dia pun ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal meskipun dia terlambat muncul karena baru pulang ke tanah air sesudah bertugas sebagai utusan Indonesia ke Jepang merundingkan masalah pampasan perang ketika itu.
Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, mengadukan rencana pembangunan masjid tersebut kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan menolong sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal diabsahkan dihadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember 1954.
Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal semenjak dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diberitahukan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Februari 1955. Melalui pemberitahuan tersebut, semua arsitek baik perorangan maupun kelembagaan diundang guna turut serta dalam sayembara itu.
Terjadi perbedaan pendapat tentang rencana tempat pembangunan Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) berasumsi bahwa tempat yang sangat tepat guna pembangunan Masjid Istiqlal tersebut ialah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang sekarang menjadi tempat Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan tempat tersebut sedang di lingkungan masyarakat Muslim dan waktu tersebut belum terdapat bangunan di atasnya.
Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI saat) mengusulkan tempat pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya ada reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perniagaan serta dekat dengan Istana Merdeka. Hal ini cocok dengan simbol dominasi kraton di Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid mesti selalu berdampingan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun,[1] dan Taman Medan Merdeka dirasakan sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain tersebut Soekarno pun menghendaki masjid negara Indonesia ini bersebelahan dengan Gereja Katedral Jakarta untuk menggambarkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama cocok Pancasila.
Pendapat H. Moh. Hatta itu akan lebih irit karena tidak bakal mengeluarkan ongkos untuk penggusuran bangunan-bangunan yang terdapat di atas dan di dekat lokasi. Namun, setelah dilaksanakan musyawarah, akhirnya diputuskan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Bagi memberi tempat untuk masjid ini, bekas benteng Belanda yakni benteng Prins Frederick yang di bina pada tahun 1837 dibongkar.
PEMBANGUNAN
Pemancangan tiang kesatu dilaksanakan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ditonton oleh ribuan umat Islam.[6]
Selanjutnya pengamalan pembangunan masjid ini tidak berlangsung lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 hingga dengan 1965 tidak mengalami tidak sedikit kemajuan. Proyek ini tersendat, sebab situasi politik yang tidak cukup kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai guna memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 ketika meletus peristiwa G30S/PKI, sampai-sampai pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah kondisi politik mereda,pada tahun 1966, Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori pulang pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang beraksi sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.
Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal berlalu dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978,[7] ditandai dengan prasasti yang dipasang di lokasi tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan didapatkan terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua belas juta dollar AS).
PERISTIWA KONTEMPORER
Karena Masjid Istiqlal ialah masjid nasional Republik Indonesia, masing-masing upacara atau peringatan hari besar Islam senantiasa dilangsungkan di masjid ini. Misalnya Hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi’raj, dan Maulid Nabi dilangsungkan di masjid ini dan diliput televisi nasional. Bagi turut meramaikan perhelatan Visit Indonesia Year 1991 digelarlah Festival Istiqlal yang kesatu pada tahun 1991. Festival ini dilangsungkan untuk memamerkan seni dan kebudayaan Islam Indonesia, turut muncul perwakilan negara kawan berpenduduk muslim laksana Iran, Arab Saudi, dan perwakilan muslim China dari Uighur. Festival Istiqlal yang kedua dilangsungkan pada tahun 1995 untuk mengenang 50 tahun kebebasan Republik Indonesia.
Pada pukul 15.20 WIB hari Senin, 19 April 1999 bom meledak di lantai dasar Masjid Istiqlal. Letusan ini meretakkan tembok dan memecahkan kaca sejumlah kantor organisasi Islam yang berkantor di Masjid Istiqlal, tergolong kantor Majelis Ulama Indonesia. Dua orang terluka dampak ledakan ini.[8] Pada bulan Juni 1999 Polisi memberitahukan tujuh orang pengamen terduga pelaku pengeboman Masjid Istiqlal yang sudah ditangkap. Ketujuh orang ini ialah pelaksana yang menanam bom di Masjid Istiqlal, meskipun demikian siapakah benak perencana di balik pengeboman ini masih belum terungkap jelas.[9]
Karena letak Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang bedampingan, maka kedekatan ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Kendaraan umat Katolik yang merayakan misa hari besar keagamaan Katolik diperkenankan memakai lahan parkir Masjid Istiqlal.[10]
PENGUNJUNG
Barack dan Michelle Obama mendatangi Masjid Istiqlal diberikan panduan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Kyai al-Hajj Ali Musthafa Ya’qub pada tanggal 10 November 2010.
Sebagai masjid terbesar di Kawasan Timur Asia (Asia Tenggara dan Asia Timur), Masjid Istiqlal unik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri, khususnya wisatawan muslim yang datang dari sekian banyak penjuru Indonesia ataupun wisatawan muslim dari luar negeri. Pengunjung muslim bisa langsung masuk dan berbaur dengan jemaah untuk membayar salat berjamaah. Wisatawan non-Muslim diperbolehkan berangjangsana dan menginjak masjid ini, sesudah sebelumnya mendapat pembekalan informasi tentang Islam dan Masjid Istiqlal. Pengunjung non-Muslim mesti mengekor tata teknik mengunjungi masjid seperti mencungkil alas kaki serta mengenakan busana yang sopan dan pantas. Misalnya pengunjung tidak diperkenankan mengenakan celana pendek atau pakaian yang tidak cukup pantas (busana lengan pendek, kaus kutang atau tank top). Pengunjung yang mengenakan celana pendek seringkali dipinjamkan sarung, sementara pengunjung perempuan diminta mengenakan kerudung. Meskipun demikian unsur yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan mesti didampingi pemandu. Misalnya pengunjung non-Muslim (kecuali tamu negara atau VVIP) tidak diperkenankan menginjak lantai kesatu ruang utama lokasi mihrab dan mimbar, tetapi diizinkan melihat unsur dalam ruangan ini dari balkon lantai kedua. Selebihnya pengunjung non-Muslim boleh mendatangi bagian lain laksana pelataran terbuka, selasar, kaki menara dan ridor masjid.
Setelah presiden Amerika Serikat Barack Obama didampingi istrinya mendatangi Masjid Istiqal pada November 2010, makin tidak sedikit wisatawan asing yang berangjangsana ke masjid ini, rata-rata selama 20 wisatawan asing mendatangi masjid ini tiap harinya. Kebanyakan berasal dari Eropa.[11]Para tokoh urgen asing familiar yang pernah mendatangi Masjid Istiqlal antara lain; Bill Clinton Presiden Amerika Serikat pada tahun 1994, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Libya Muammar Gaddafi, Pangeran Charles dari Britania Raya, Li Yuanchao wakil ketua Partai Komunis China, Presiden Cile Sebastián Piñera, Heinz Fischer Presiden Austria, dan Jens Stoltenberg Perdana Menteri Norwegia,[12] dan Kanselir Jerman Angela Merkel pada tahun 2012.[13]
ARSITEKTUR
Sebagai masjid negara Indonesia, Masjid Istiqlal diinginkan dapat menampung jamaah dalam jumlah yang besar. Karena tersebut arsitekturnya merealisasikan prinsip minimalis, dengan mempertimbangkan keberadaannya di area beriklim tropis. Masjid dirancang supaya udara bisa bebas bersirkulasi sampai-sampai ruangan tetap sejuk, sedangkan jemaah terbebas dari panas matahari dan hujan. Ruangan salat yang sedang di lantai utama dan tersingkap sekelilingnya dijepit oleh plaza atau pelataran tersingkap di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang dengan bukaan lowong yang lebar di antaranya, dimaksudkan untuk mempermudah sirkulasi udara dan penerangan yang alami.
Komentar
Posting Komentar